Penulis: Pinandita I Gusti Ngurah Rai
Tumpek Krulut atau Kerulut ditinjau dari aspek etimologi, Krulut berasal dari kata lulut yang artinya nurut, manut, mendapat awalan “ke” menyatakan kejadian yang berulang kali.
Sedangkan kata Tumpek berarti tampek, dekat. Segala perilaku ajaran yang diawali, dilakukan pada Tumpek Krulut ini akan mudah diingat, dapat dengan mudah dipahami atau diulangi. Oleh karenanya hari yang baik ini dipergunakan untuk memulai suatu kegiatan yang akan dengan mudah dapat dipahami diulangi. Kemudian secara tradisi dipergunakan untuk ngajah sapi, godel untuk metekap, mulai belajar menari, mulai belajar megambel, dan segala bentuk kesenian, kacuali wayang. Untuk di Banjar Purna Widya, momen tumpek yang suci ini dipergunakan untuk ngodalin Gong karena saat Tumpek Krulut ini juga dilaksanakan pemujaan terhadap Dewa Iswara yang pada hari ini berkenan memberikan waranugrahaNYA kepada umat manusia terutama pada hal yang berhubungan dengan suara. Jadi pada tumpek ini kita ngodalin gong memohon kepada Dewa Iswara agar Gong atau Angklung, bunyi-bunyian lain mendapat waranugraha dari Dewa Iswara. Bila dikaitkan dengan kodifikasi Weda maka ngotonin Gong termasuk dalam Weda Smrti yakni bagian dari Upa Weda. Dalam Upa Weda kita temui bagiannya antara lain: Purana yang berisi cerita kuno klasik mithologi; Ithihasa tentang sejarah masa lampau; Artha Sastra mengenai Ilmu pemerintahan, politik; Ayur Weda tentang Ilmu Kedokteran, obat-obatan; GANDARWA WEDA: ilmu seni suara, tari, rupa, lukis, mudra, dll; Dhanur Weda tentang ilmu senjata. Saat tumpek Kerulut ini kita diedukasi untuk memahami Weda yang sangat komprehensip. Segalanya ada dalam Weda.
Ngodalin Gong dapat bermakna pemujaan kepada Bhagawan Wiswa Karma sebagai ahli di segala bidang baik seni, bangunan, dan lain-lain dalam prabhawa beliau sebagai Dewa Taksu. Dengan dirangsuki oleh Dewa Taksu, maka segala perilaku termasuk Seni akan terjiwai menjadi pangus, dan hidup yang disebut “Metaksu”. Weda itu dapat dipahami dari beberapa dimensi tergantung intelektual pengamat. Ada yang memandang Tumpek Kerulut ini sebagai hari kasih sayang. Lulut berarti nurut, ikut orang yang nurut pada yang lain pasti dipengaruhi oleh rasa cinta kasih. Siapapun kalau sudah terkena panah Dewa Asmara pasti lulut mengikuti dengan senang hati segala yang diinginkan oleh mereka. Adalagi yang berpendapat bahwa pada saat Tumpek Kerulut umat Hindu melakukan pemujaan pada Dewa Siwa Nata Raja. Ketika Dewa Siwa menciptakan segalanya, beliau lakukan dengan menari. Bila dikupas lebih mendalam, akan banyak lagi sudut pandang para ahli tentang Tumpek Kerulut ini. Semoga ada manfaatnya.
